Info Seputar Wanita dan Kesehatan

Obat-Obat HIV/AIDS

Sampai hari ini memang belum ada obat atau vaksin untuk HIV/AIDS, penyakit yang diderita sekitar 37 juta orang di dunia. Tapi, ada alasan untuk berharap karena riset-riset yang dilakukan semakin menjanjikan.

Kemajuan pengobatan dan pencegahan infeksi HIV memang terus meningkat. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia, di tahun 2015 angka kematian karena penyakit ini jauh lebih rendah dalam 20 tahun terakhir. Angka penularan HIV baru juga mencapai titik terendah sejak tahun 1991. Berikut ini adalah Obat-Obat HIV/AIDS

Pencegahan HIV/AIDS

Cara terbaik untuk mencegah penularan HIV/AIDS adalah dengan selalu hidup dan berperilaku sehat. Berikut adalah beberapa hal penting sebagai usaha pencegahan penularan HIV/AIDS.
  • Selalu menggunakan jarum suntik yang steril dan baru ketika kita akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka.
  • Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal itu memungkinkan penularan HIV/AIDS).
  • Bila ibu hamil dalam keadaan HIV posiitif sebaiknya diberi tahu tentang seua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinnya sendiri dan bayinya sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI bisa dipertimbangkan.

Obat-Obat HIV/AIDS

Sampai saat ini belum ditemukan obbat yang benar-benar dapat menyembuuhkan penderita HIV/AIDS. Obat-obat yang dikenal sekarang hanyalah berupa obat-obat yang dapat menambah daya tahan tubuh penderita atau memperpanjang harapan hidup penderita.

Obat-Obat HIV/AIDS


Berikut adalah beberapa jenis obat di dunia kedokteran yang digunakan untuk menyembuhkan penderita HIV/AIDS.
  1. AZT (Azidothymidine), obat ini diperkirakan mampu menahan perkembangan virus, tetapi mengandung efek samping. Efek samping yang bisa timbul antara lain penderita akan mengalami kerusakan sumsum tulang dan menderita anemia berat, akibatnya penderita harus menjalani transfusi darah.
  2. DDI (Diseoxycitidine), cara kerja obat ini tidak berbeda dengan AZT, yaitu mampu menahan reproduksi HIV dalam darah. Obat ini telah diuji coba dan tidak menimbulkan efek samping yang fatal.
  3. DDC (Zalcitabine), seperti halnya AZT dan DDI, obat ini dapat menahan perkembangan virus HIV.
Ketiga jenis obat tersebut telah mendapat rekomendasi dari badan yang berwenang mengawasi obat dan makanan di Amerika Serikat. Menurut para ahli obat, obat-obatan tersebut mampu memperpanjang harapan hidup penderita sampai satu atau dua tahun. Efek samping dari DDI dan DDc adalah dapat menyebabkan kerusakan pankkreas dan gangguan saraf.

Seain itu, para ahli Jepang menemukan obat untuk enderita HIV/AIDS yaitu sebagai berikut

a. M-HDA (Meiji Humin Derivetize Al-Bumin), ramuan ini berupa gabungan antara Carbodimine Humin dan Succinylated Human Al-Bumin yang terkandung dalam darah manusia. M-HDA kabarnya mampu menyingkirkan sel-sel tubuh yang digerogoti HIV dengan tidak membahayakan limfosit normal.

b. Tachyplesin, merupakan cairan kimia yang diambil dari hewan sejenis kepiting (Tachypleus tridentatus) yang dinamakan T-220. Ramuan ini telah diuji coba pada tikus dengan hasil yang sangat memuaskan, tetapi masih menimbulkan efek samping seperti AZT.

Para ahli dari Inggris juga menemukan ramun yang digunakan untuk mengobati penderita HIV/AIDS, yaitu So.221 dan GLQ.223. kedua jenis obat ini masih menimbulkan efek samping seperti halnya AZT, tetapi tidak terlalu berbahaya. Selain itu, terdapat juga obat-obatan tradisional yang diperkenalkan Cina, yaitu Milingwang yang diuji coba pada 158 pasien Obat HIV/AIDS di Cina hasilnya paling tidak mempu memperpanjang harapan hidup penderita.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
100% Gratis | No Spam | Email Terlindungi | Pemberitahuan Langsung dari Google
virtuarchive
Tags :

Populer Lainnya : Obat-Obat HIV/AIDS

0 comments:

Post a Comment